My Pride Month 2026 Read

Ada fenomena menarik yang saya perhatikan dari toko-toko buku independen lokal di bulan Juni ini yaitu, mereka “merayakan” Bulan Bangga (Pride Month) dengan mengunggah buku-buku bertema Bulan Bangga lewat media sosial mereka. Tidak hanya itu, beberapa toko buku juga mengadakan acara dari diskusi hingga pemeriksaan HIV gratis. Ini jelas sebuah kemajuan, karena penghormatan atas keragaman gender dan seksualitas ternyata mulai marak di tengah banyaknya kabar intoleransi di negeri ini.

Tapi dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas hal itu lebih jauh, saya hanya ingin ikut meramaikan Bulan Bangga dengan membagikan buku-buku yang saya baca selama Bulan Bangga tahun 2026 ini.

She Who Remains (2018)

Buku karya Rene Karabash ini adalah buku pembuka dalam rangkaian membaca saya bulan ini. Bukunya tidak terlalu tebal tapi isinya sangat dalam dan menyesakkan. Saya bahkan tidak kuat membacanya secara terus menerus saking gelap dan depresifnya buku ini.

Ceritanya adalah tentang Bekija yang tinggal di desa terpencil yang terletak di area pegunungan yang dikenal sebagai Accursed Mountain di Albania. Masyarakat di sana masih menganut hukum patriarkal yang kuno dan kaku yang disebut sebagai Kanun, yang menyebabkan tertindasnya hak-hak kaum perempuan, termasuk dalam memilih pasangan.

Bekija kemudian mengambil keputusan ekstrem yaitu menjadi “sworn virgin”, yaitu sumpah hidup selibat yang memungkinkannya diakui sebagai laki-laki. Hal ini tidak lepas dari perjodohan paksa yang dilakukan ayahnya.

Namun keputusan itu bukan tanpa akibat. Pertumpahan darah dan kehancuran keluarganya terjadi karena dalam hukum Kanun, pembatalan perjodohan mempunyai konsekuensi hilangnya nyawa keluarga.

Buku ini bukan hanya menarik dari segi cerita, tapi juga dalam gaya bahasanya yang seperti puisi narasi. Rene Karabash juga menghilangkan kapitalisasi dan tanda kutip untuk membuat kalimat-kalimat dalam buku ini jadi lebih melebur dan terasa sangat dalam meresap.

Buku ini pertama kali terbit pada tahun 2018 dan pada tahun ini masuk dalam daftar Booker Prize 2026.

Lie With Me (2017)

Dari desa terpencil di pegunungan Albania, saya dibawa terbang ke Prancis oleh Philippe Besson, menuju sebuah kota kecil bernama Barbezieux. Di sana, pada tahun 1984, ada dua orang remaja yang diam-diam menjalan cinta “terlarang”.

Di tengah-tengah masyarakat kota kecil yang saling kenal satu sama lain dan sekolah yang konservatif, Philippe yang mulai tahu bahwa ada yang berbeda dengan dirinya bertemu dengan Thomas Andrieu, teman sekolahnya yang pendiam, misterius, dan berasal dari keluarga petani yang keras. Mereka kemudian menjalin sebuah cinta “terlarang” yang “panas”. Kisah cinta ini mereka lakukan dengan penuh kerahasiaan karena ketakutan akan tekanan sosial dari masyarakat. Hubungan mereka kemudian hilang begitu saja ketika masa sekolah usai dan jalan hidup membawa mereka di arah yang berbeda.

Bertahun-tahun setelahnya, ketika Philippe sudah menjadi seorang penulis tenar, dia bertemu dengan seorang anak yang mengingatkannya pada Thomas, cinta pertamanya. Dari situ dia mencoba menelusuri kehidupan Thomas yang rupanya tragis dan penuh kesepian.

Buku ini membawa saya bernostalgia dengan masa remaja yang penuh misteri dan tanda tanya. Banyak hal yang dieksplor dengan penuh kepolosan pada masa-masa itu, termasuk di dalamnya cinta pertama.

Banyak orang bilang bahwa cinta pertama tidak pernah terlupakan. Itulah yang terjadi pada dua tokoh sentral dalam buku ini. Sayangnya demi memenuhi tuntutan sosial, mereka harus berbohong dan menafikan identitas diri dan akhirnya membawa pada tragedi yang tragis.

Buku ini bukan hanya romantis, tapi merupakan elegi tentang apa yang tidak pernah bisa kita miliki, penyesalan, waktu yang hilang dan tidak bisa kita putar kembali, hingga perpisahan yang mengubah jalan hidup.

Menurut saya, Philippe Besson berhasil menyayat-nyayat hati pembacanya melalui kalimat-kalimat yang deskriptif dan detail tentang ingatannya yang tertulis dalam buku ini.

Suku Pelangi (2026)

Saat pertama kali melihat unggahan tentang buku ini di media sosial, saya langsung tertarik untuk membacanya. Sayang rupanya saya ketinggalan informasi dan ketika mendatangi sebuah toko buku independen buku ini sudah habis tak bersisa. Akhirnya saya harus menunggu cetakan berikutnya dan syukurnya saya bisa mendapatkannya.

Buku non fiksi ini berangkat dari sebuah kejengahan perihal anggapan bahwa LGBTQ+ adalah budaya impor dari Barat yang dianggap negatif karena tidak sesuai dengan budaya luhur bangsa ini. Kemudian muncul pertanyaan tentang apa sebenarnya makna dari “budaya kita” dan “budaya impor” itu? Apa yang kemudian dianggap positif dan apa yang negatif? Jawaban dari hal ini tentu memancing perdebatan panjang yang pada akhirnya akan dimenangkan oleh siapa yang pendapatnya adalah mayoritas dan berkuasa.

Penulis kemudian secara jelas mengungkapkan tujuan utama penulisan buku ini adalah untuk membantah tuduhan bahwa LGBT adalah suatu kebudayaan yang “diekspor” atau perilaku menyimpang akibat pengaruh gaya hidup kebarat-baratan.

Untuk mencapai tujuan ini, penulis menggunakan studi dari sumber-sumber primer berupa dokumen-dokumen kolonial, literatur mitologi dan sastra lokal, hingga catatan etnohistoris yang dihasilkan oleh pejabat kolonial, petualan, misionaris, dan antropolog dari abad ke-16 hingga sekarang.

Penulis berusaha untuk menunjukkan bahwa LGBTQ di nusantara bukanlah monopoli sekelompok masyarakat adat saja tapi bisa ditemukan secara menyeluruh dari ujung barat sampai ujung timur nusantara.

Menurut saya ini adalah kajian yang menarik dan mencerahkan. Walaupun selama ini saya tahu bahwa di beberapa suku di Indonesia LGBTQ eksis dan bahkan mendapat tempat yang terhormat, namun saya tidak menyangka bahwa hal ini bukan hanya ada di satu titik saja melainkan cukup tersebar.

Buku ini kemudian memberi pengetahuan pada saya bahwa ada masa di mana bangsa ini adalah bangsa yang menghormati, menghargai, dan terbuka akan keragaman gender dan seksualitas.

Taiwan Travelogue (2020)

Buku ketiga membawa saya ke masa penjajahan Jepang di Taiwan pada sekitar tahun 1938. Buku ini berkisah tentang seorang penulis Jepang bernama Aoyama Chizuko yang berkeliling Taiwan untuk mengenal budaya dan kuliner di negara itu. Dalam perjalanan ini, Aoyama bertemu dengan seorang penerjemah cerdas bernama O Chizuru. Mereka kemudian menjelajah aneka kuliner khas Taiwan yang membuat saya lapar sepanjang membaca buku ini.

Buku ini dibagi menjadi 12 bab yang masing-masing babnya diberi nama berdasarkan makanan yang dicobai Chizuko. Ini jelas menggoda perut saya untuk selalu keroncongan. Tapi bukan hanya itu, buku ini kemudian menukik tajam pada hubungan romansa yang rumit antara penulis dan penerjemahnya yang memiliki latar belakang keluarga serta kedudukan yang berbeda. Satu sebagai penjajah, satu lagi sebagai orang yang dijajah. Meskipun Chizuko berusaha keras untuk menghilangkan statusnya sebagai penjajah namun tetap saja hal itu mustahil.

Ini kemudian membawa kerumitan selanjutnya yaitu tentang kolonialisme dan pejajahan. Dalam salah satu cerita dikisahkan tentang Chizuko yang walaupun mencoba sangat keras untuk meleburkan diri menjadi orang lokal namun tetap cara pandang di otaknya yang menganggap makanan-makanan khas Taiwan sebagai makanan yang eksotik mencerminkan bahwa usahanya menjadi lokal menghadapi kegagalan. Begitu juga adanya kisah penolakan dari seorang koki lokal untuk memasak untuk penjajah. Juga bagaimana masyarakat lokal yang merasa bahwa seindah-indahnya kemajuan yang dibawa oleh pemerintah kekaisaran Jepang, tetap saja mereka merasa bahwa menjadi bangsa jajahan tidaklah mengenakkan.

Selain isinya, ada juga yang istimewa dari buku ini. Jadi, di awal penerbitannya, banyak orang terkecoh bahwa merasa tertipu karena menganggap buku ini sebagai sebuah kisah nyata karya seorang penulis Jepang (yang adalah tokoh fiksi dalam buku ini). Hal ini karena buku ini disusun dengan sangat rapi, termasuk di dalamnya banyak catatan kaki, yang menggambarkan bahwa buku ini benar-benar ditulis oleh si tokoh fiksi itu. Selain itu, pada bagian akhir buku juga ada catatan-catatan baik catatan penerjemah pertama, catatan dari anak penulis yang bersyukur bahwa naskah ibunya kembali ditemukan dan diterbitkan dalam bahasa berbeda, juga catatan dari penerjemah edisi yang terbaru yang dipegang oleh para pembaca. Ini benar-benar membuat seolah-olah buku ini benar-benar diterjemahkan dari naskah kuno yang aslinya berbahasa Jepang.

Saya sendiri menikmati buku ini layaknya sebuah buku catatan perjalanan yang kompleks. Bukan hanya mengenai budaya dan makanan tapi juga perasaan-perasaan yang muncul dalam setiap perjalanan.

The Open Era (2026)

Setelah dibuka dengan buku yang kelam dan depresif, bacaan penutup saya di Bulan Bangga tahun ini adalah sebuah buku yang sangat asyik dibaca karena menggabungkan keseruan pertandingan tenis US Open dengan romansa dua atlet muda di belakangnya. Mengingatkan pada buku tentang olahraga hoki es yang beberapa bulan lalu sempat meledak?

Ceritanya tentang Austin Hardy yang tahun ini lolos babak kualifikasi dalam turnamen grand slam bergengsi US Open. Sebagai atlet baru yang tiba-tiba masuk ke arena tenis kelas dunia, Hardy harus berhadapan dengan masalah kesehatan mental yang tanpa sadar menggerogotinya sejak sang ayah tercinta meninggal, yaitu gangguan kecemasan. Masalah kesehatan mental ini semakin menjadi sampai-sampai dalam sebuah sesi latihan, Hardy pingsan dan ditolong oleh Diego Cruz, petenis nomor dua dunia. Sejak itulah mereka mulai berteman dan menjadi akrab.

Saat memasuki babak berikutnya, Hardy secara kebetulan berada dalam satu grup dengan Cruz. Ini berarti, pada akhirnya mereka harus bertanding mati-matian untuk mencapai babak selanjutnya, dan ini tidak mudah di tengah pertemanan mereka yang semakin mengarah pada romansa.

Bagaimana Hardy yang sejak SMU sudah terbuka sebagai gay kemudian harus berhadapan dengan Cruz yang selalu menarik-ulur hubungan mereka karena bingung akan seksualitasnya dan tekanan dari fans maupun anggota timnya? Ini yang bikin bukunya seru banget!

Seperti halnya buku meledak Game Changer (yang dijadikan serial berjudul Heated Rivalry), buku ini juga menggambarkan bagaimana atlet pria yang selalu dianggap macho, harus berhadapan dengan seksualitasnya dan tekanan sosial yang sudah terlanjur terbentuk. Tidak mudah rasanya, atlet peringkat dunia untuk terbuka akan seksualitas mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *