Peringatan pemicu:
Tulisan ini mengandung/membahas topik sensitif tentang bunuh diri yang mungkin memicu trauma, perasaan tidak nyaman, maupun emosi negatif lainnya.
Harap berhati-hati dan jangan lanjutkan membaca tulisan ini bila Kamu merasa sensitif terhadap hal-hal di atas.
Jangan ragu untuk meminta bantuan profesional bila kamu memiliki keinginan untuk bunuh diri. Segera hubungi psikiater, psikolog, atau UGD klinik/rumah sakit terdekat.
Gimana rasanya jadi orang yang secara fisik dianggap tidak menarik? Gendut, selalu berkeringat dan bau, berkulit hitam, dan dalam pergaulan sehari-hari selalu jadi sasaran bully dan pendiam? Tidak hanya itu, bahkan sejak kecil orang tua sendiri menganggap kita tidak punya bakat apa-apa dan tidak akan menjadi apa-apa setelah besar nanti.
Itulah yang dirasakan Ale, tokoh utama dalam novel terbaru karya Brian Khrisna, dan itu pula yang mendorong Ale untuk bunuh diri dengan menenggak obat-obatan depresinya sampai over dosis.
Jadi, sore itu, sepulang kantor, Ale duduk di lapangan parkir kantornya. Memikirkan betapa selama ini, di usia jelang 40 tahun, di kantor dia tidak pernah dianggap ada bahkan dilirik oleh teman-temannya. Saat ulang tahun, ketika dia membawa kue ulang tahun untuk dibagikan ke teman-teman sekantor, tak seorangpun sudi mengambil.
Belum lagi dalam kehidupan percintaan, Ale merasa selalu ditolak oleh perempuan-perempuan yang ditaksirnya. Ini membuat Ale kehilangan rasa percaya diri dan selalu menarik diri dari pergaulan. Dia pernah pacaran, 1 kali, itupun bukan mutual, tapi Ale hanya dimanfaatkan saja oleh pasangannya yang bahkan tidak pernah ingin terlihat bersama Ale apalagi mengenalkan Ale ke teman-temannya, hingga akhirnya mereka putus.
Kalau lo sampai harus memohon sama seseorang, itu artinya lo masih mencintai orang yang salah. Lo itu bukan gak pantas dicintai kerena bentuk lo, Le. Tapi karena lo sendiri gak bisa mencintai diri lo yang bentuknya seperti ini.
Sore itulah Ale mutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dia sudah menyiapkan segalanya sampai di detik-detik terakhir sebelum dia menenggak obat anti depresi yang sudah diminta dari psikiaternya dia berpikir untuk memakan seporsi mie ayam sebagai makanan terakhir sebelum mati. Keinginan ini kemudian berujung pada perjalanan Ale yang aneh. Dari tukang mie ayam langganannya yang mendadak hari itu tutup, bertemu ketua preman di penjara gara-gara Ale jadi korban salah tangkap karena dikira kurir narkoba, bertemu PSK dan muncikarinya di rumah bordil, bertemu OB kantornya lengkap dengan keluarga teman si OB, bahkan tukang kerupuk Bangka buta. Dari pertemuan dengan orang-orang itulah Ale mendapat banyak pelajaran tentang hidup. Mereka seolah menyadarkan Ale bahwa begitu banyak ragam kehidupan orang di luar sana yang selama ini tidak disadarinya.
Hidup itu seperti pertandingan tinju. Kekalahan tidak ditentukan ketika kamu jatuh, tetapi ketika kamu memutuskan untuk tidak mau bangkit lagi.
Menurut saya novel setebal 209 halaman ini memang layak mendapat apresiasi di tengah para pembacanya. Tak heran hanya dalam hitungan bulan buku ini sudah dicetak sebanyak 32 kali! Benar-benar buku super laris.
Topik yang super berat tentang bunuh diri berhasil dibawakan dengan sangat bersahabat, penuh nilai namun sama sekali tidak terasa menggurui. Bahkan dalam buku ini secara komikal Brian sempat-sempatnya menyindir kebanyakan dari kita yang bila menghadapi teman yang sedang depresi selalu secara template mengatakan: “sabar ya” atau “dekatkanlah diri pada Tuhan supaya bisa lepas dari depresi” atau bahkan yang terburuk: “Halah! Gitu aja kok cengeng! Banyak yang lebih menderita dari kamu!”
Selain itu kekuatan buku ini juga terletak pada cara Brian menempatkan banyak kata-kata indah yang seringkali membuat saya mengangguk-angguk setuju dan merasa termotivasi karenanya. Mungkin ini berangkat dari awal karier Brian yang adalah penulis puisi-puisi narasi ya.
Yang sedikit agak mengganggu dari buku ini adalah bahwa jalan ceritanya terasa agak “menggampangkan” jalan keluar masalah yang pelik. Pertemuan dengan orang-orang random memang asyik dibaca tapi kalau dipikirkan lebih lanjut saya berpendapat: “Ahhh! Hidup nggak semudah itu!” Tapi ya ini kan buku novel ya, bukan buku text book yang membahas tentang pencegahan bunuh diri. Jadi aspek fiksinya ya harus cukup kuat untuk jadi asyik dibaca.
Secara keseluruhan saya memberi nilai buku ini: 4,5 dari 5!
