Review Buku The Correspondent Karya Virginia Evans: Kisah tentang Surat, Kehidupan, dan Penyesalan

Di pertengahan Oktober ini, saya menemukan sebuah buku yang akhirnya berhasil masuk dalam daftar nominasi buku terbaik tahun ini. Judulnya The Correspondent, karya Virginia Evans.

Dengan ketebalan hanya 285 halaman dan bab-bab yang relatif pendek, buku ini terasa ringan untuk dibaca. Setiap bab seperti menawarkan jeda kecil yang justru membuat saya ingin terus melanjutkan ke halaman berikutnya. Tanpa terasa, buku ini pun selesai dibaca dalam waktu yang relatif singkat.

Hal yang membedakan The Correspondent dari novel-novel lain adalah format penceritaannya. Alih-alih menyajikan narasi konvensional, Virginia Evans mengajak pembaca mengikuti korespondensi Sybil Van Antwerp dengan beragam orang dalam kehidupannya. Mulai dari teman, tetangga, anak-anak, mantan suami, dan mantan kolega, hingga orang-orang yang mungkin tidak pernah kita bayangkan akan menjadi bagian dari sebuah cerita, seperti petugas layanan pelanggan, penulis buku yang ia sukai maupun tidak sukai, dan banyak tokoh lainnya.

Ketika pertama kali membaca ulasan singkat teman-teman di Threads, saya mendapat satu saran penting: perhatikan nama-nama dan peran setiap tokoh dengan saksama. Maklum, Sybil mengirimkan begitu banyak surat kepada begitu banyak orang. Pada awalnya, saya membayangkan membaca buku ini akan membutuhkan konsentrasi ekstra agar tidak kehilangan jejak siapa berbicara kepada siapa.

Namun, kenyataannya tidak sesulit itu. Memang, kita perlu mengingat nama dan hubungan antartokoh, tetapi cerita ini begitu menarik sehingga semuanya terasa mengalir secara alami. Saya tidak merasa harus mengerahkan konsentrasi berlebihan untuk menikmati novel ini. Justru, semakin jauh membaca, semakin mudah saya larut dalam kehidupan Sybil dan orang-orang di sekelilingnya.

Salah satu hal yang paling saya sukai dari The Correspondent adalah kemampuan Virginia Evans memperkenalkan setiap tokoh melalui tulisan mereka sendiri. Tanpa harus bergantung pada deskripsi panjang tentang penampilan atau kepribadian seseorang, kita perlahan-lahan mengenali siapa mereka melalui pilihan kata, cara menyampaikan pendapat, dan bagaimana mereka merespons orang lain.

Buku ini seolah membenarkan sebuah adagium: kita adalah apa yang kita pikirkan…atau, dalam konteks novel ini, kita adalah apa yang kita tulis. Kepribadian setiap tokoh tercermin melalui surat-surat mereka. Dari sana, pembaca bisa menangkap karakter, emosi, dan cara pandang masing-masing terhadap kehidupan.

Saya juga mengapresiasi kemampuan Virginia Evans meramu begitu banyak persoalan kehidupan ke dalam sebuah novel epistolari, yaitu novel yang disampaikan melalui surat-menyurat. Ada persoalan pengasuhan anak, perpisahan, persahabatan, percintaan, hingga penyesalan-penyesalan yang kerap datang pada usia senja. Semua terasa dekat dengan kenyataan, seolah-olah kita sedang membaca potongan kehidupan orang-orang yang mungkin kita kenal.

Menariknya, berbagai persoalan tersebut tidak disampaikan melalui narasi panjang yang menjelaskan segalanya kepada pembaca. Sebaliknya, kita diajak memahami konflik dan emosi para tokoh melalui surat yang mereka tulis dan balasan yang mereka terima. Menurut saya, merangkai begitu banyak persoalan dan karakter dengan cara seperti ini bukanlah pekerjaan mudah. Untuk itu, Virginia Evans pantas mendapatkan acungan jempol.

Pada akhirnya, The Correspondent juga membawa saya bernostalgia ke masa ketika surat-menyurat masih menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari. Ada sesuatu yang istimewa dari kebiasaan menulis surat pada masa itu. Kita dituntut untuk menyampaikan kabar, pikiran, dan perasaan dengan baik melalui tulisan, sekaligus belajar memilih kata secara efektif dan efisien.

Surat memiliki keterbatasan ruang, membutuhkan biaya untuk dikirim, dan tidak bisa langsung sampai ke tangan penerima. Ada waktu tunggu antara saat sebuah surat ditulis dan saat balasannya tiba. Karena itu, setiap kata terasa lebih berharga. Kita harus berpikir sebelum menulis, menyusun kalimat dengan cermat, dan memastikan bahwa apa yang ingin disampaikan benar-benar sampai kepada orang yang dituju.

Di tengah zaman ketika pesan bisa dikirim dalam hitungan detik dan percakapan digital sering kali berlangsung tanpa banyak pertimbangan, membaca The Correspondent terasa seperti diingatkan kembali pada seni berkomunikasi melalui tulisan. Sebuah surat bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi, melainkan juga ruang untuk mengungkapkan perasaan, memperbaiki hubungan, menyimpan kenangan, dan terkadang menghadapi hal-hal yang selama ini sulit diucapkan secara langsung.

Bagi saya, The Correspondent bukan hanya novel tentang surat-menyurat. Buku ini adalah kisah tentang manusia, hubungan antarmanusia, dan bagaimana kata-kata yang kita pilih dapat memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya.

Nilai untuk buku The Correspondent: 5 dari 5 bintang! ⭐⭐⭐⭐⭐

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *