Siapa yang pernah liburan ke Brunei Darussalam?
Pertanyaan itu cukup sering saya lontarkan kepada teman-teman. Menariknya, hampir semua memberikan jawaban yang sama: belum pernah. Beberapa bahkan bercanda bahwa saya mungkin satu-satunya orang yang mereka kenal yang pernah mengunjungi negara kecil di Asia Tenggara yang terkenal dengan kekayaan minyak dan gas alamnya itu.
Memang, Brunei Darussalam belum menjadi destinasi wisata populer di kawasan Asia Tenggara. Banyak video perjalanan di YouTube menggambarkan negara ini sebagai tempat yang sepi. Bahkan, ada yang menyebut bahwa tidak banyak hal menarik yang bisa dilakukan di sana.

Berbekal berbagai ulasan tersebut, saya pun berangkat dengan ekspektasi yang sengaja dibuat serendah mungkin. Namun, justru di luar dugaan, perjalanan selama tiga hari dua malam di Brunei memberikan pengalaman yang jauh lebih menarik daripada yang saya bayangkan.
Brunei mungkin bukan destinasi dengan kehidupan malam yang semarak, pusat perbelanjaan yang selalu ramai, atau daftar atraksi wisata yang seolah tidak ada habisnya. Namun, di balik suasananya yang tenang, saya menemukan kehidupan sehari-hari, kekayaan budaya, kuliner lokal, dan cerita masyarakat yang membuat perjalanan ini layak dikenang.
Transportasi di Brunei Darussalam: Tantangan Menuju Pusat Kota
Salah satu hal pertama yang kami pertimbangkan sebelum memutuskan bepergian ke negara lain adalah transportasi. Mulai dari penerbangan dari Indonesia menuju negara tujuan hingga pilihan kendaraan selama berada di sana, semuanya perlu diperhitungkan karena akan memengaruhi anggaran perjalanan.
Saat mencari penerbangan dari Indonesia ke Brunei Darussalam, kami segera menyadari bahwa pilihan penerbangannya tidak sebanyak rute menuju negara-negara tetangga. Jadwal penerbangan yang terbatas membuat kami harus mempertimbangkan waktu kedatangan di Bandara Internasional Brunei.
Alasannya sederhana: pilihan transportasi di Brunei tidak terlalu banyak. Semakin larut kami tiba, semakin besar pula kemungkinan kesulitan mendapatkan kendaraan menuju hotel.
Beruntung, perjalanan kali ini hanya berlangsung selama tiga hari dua malam. Kami tidak perlu membawa banyak pakaian atau barang bawaan sehingga bisa memilih tiket pesawat ekonomis tanpa bagasi tercatat. Setidaknya, satu persoalan berhasil kami selesaikan sebelum keberangkatan.

Tantangan berikutnya baru dimulai setelah kami mendarat di Brunei.
Untuk menuju pusat kota, salah satu pilihan praktis bagi wisatawan adalah menggunakan Dart, layanan pemesanan kendaraan yang beroperasi di Brunei. Namun, jumlah pengemudinya relatif terbatas. Kami sempat membaca cerita para pelancong yang harus menunggu cukup lama di bandara hanya untuk mendapatkan kendaraan.
Syukurlah, pengalaman kami malam itu jauh lebih mulus. Kami memang sempat kebingungan mencari titik penjemputan Dart di bandara, tetapi hal semacam itu rasanya hampir selalu menjadi bagian dari petualangan di destinasi baru. Kami hanya perlu sedikit waktu untuk memahami tata letak bandara dan menemukan lokasi penjemputan yang tepat.
Setelah itu, perjalanan menuju hotel berlangsung tanpa kendala berarti.
Hotel di Brunei: Mengapa Kami Memilih The Brunei Hotel?
Mencari hotel di Brunei Darussalam sebenarnya bukan perkara sulit. Ada cukup banyak pilihan akomodasi dengan harga yang relatif bersahabat. Tantangannya justru terletak pada lokasi karena tidak semua hotel berada dalam jarak berjalan kaki dari destinasi wisata utama di Bandar Seri Begawan.
Sebelum berangkat, kami juga sudah sering mendengar anggapan bahwa Brunei adalah negara yang tenang, bahkan cenderung sepi. Karena itu, kami merasa perlu memilih hotel yang benar-benar nyaman. Kalaupun ternyata tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan, setidaknya perjalanan ini masih bisa dinikmati layaknya sebuah staycation.
Terbatasnya pilihan transportasi umum juga menjadi pertimbangan penting. Menginap di kawasan strategis tentu dapat menghemat waktu dan biaya sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan.
Setelah membandingkan beberapa pilihan, kami akhirnya menjatuhkan pilihan pada The Brunei Hotel. Lokasinya strategis, ulasan tamunya konsisten positif, dan fasilitasnya terlihat nyaman. Tarifnya memang bukan yang paling murah, tetapi jika mempertimbangkan lokasi, kenyamanan, dan kemudahan menjangkau berbagai tempat wisata, hotel ini terasa sebagai pilihan yang masuk akal.
Keputusan tersebut ternyata tidak mengecewakan.
Begitu tiba, kesan pertama kami langsung positif. Lokasinya sesuai harapan, sementara kamar yang kami tempati bersih dan nyaman. Kondisinya pun sesuai dengan foto-foto yang ditampilkan di situs pemesanan hotel.
Untuk perjalanan singkat seperti ini, The Brunei Hotel menjadi tempat beristirahat yang tepat. Kami bisa kembali ke hotel setelah seharian berjalan-jalan dan bersiap menjelajahi Brunei pada hari berikutnya.
Menjelajahi Bandar Seri Begawan: Pasar Tradisional, Masjid, dan Kehidupan Kota
Karena pesawat kami mendarat cukup larut malam, hari pertama di Brunei hanya kami habiskan dengan berjalan santai di sekitar hotel. Sambil mencari udara segar, kami menandai beberapa tempat makan yang terlihat menarik untuk dicoba keesokan harinya.
Ada satu hal yang langsung menarik perhatian kami malam itu. Selama ini, Brunei dikenal sebagai negara yang sangat menjunjung nilai-nilai Islam. Namun, kami cukup terkejut melihat beberapa anjing berkeliaran bebas di jalanan. Pemandangan ini mengingatkan kami pada perjalanan ke Turkiye, tempat anjing dan kucing menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Keesokan paginya, kami mulai menjelajahi kawasan di sekitar hotel. Salah satu tempat pertama yang kami datangi adalah halte angkutan umum di seberang jalan. Kami penasaran ingin melihat bagaimana sistem transportasi umum di Brunei bekerja.
Apa yang kami temukan cukup mengejutkan. Meski dikenal sebagai salah satu negara kaya di dunia, kendaraan angkutan umumnya terlihat cukup tua. Bentuknya mengingatkan kami pada ELF yang dahulu banyak beroperasi di Indonesia. Jadwal keberangkatannya pun tidak selalu pasti karena kendaraan bisa menunggu hingga jumlah penumpang mencukupi.
Tidak jauh dari hotel, kami menemukan sebuah pasar tradisional yang tampil lebih menyerupai pasar modern. Bangunannya rapi dan bersih, tetapi suasananya sangat lengang. Jumlah pedagang maupun pembelinya jauh lebih sedikit dibandingkan pasar-pasar pagi di Indonesia.
Para penjual tampak menunggu dengan sabar, sementara lorong-lorong pasar terasa begitu sepi. Mungkin memang beginilah ritme kehidupan sehari-hari di Brunei: lebih tenang dan tidak terburu-buru.
Pagi itu kami menutup penjelajahan dengan sarapan di sebuah kedai yang dipenuhi penduduk lokal. Tempat ini menarik karena menyajikan beragam hidangan, mulai dari masakan Tionghoa hingga India. Para pegawainya pun berasal dari latar belakang berbeda, mencerminkan keberagaman budaya yang hidup berdampingan di Brunei.
Suasananya sederhana, tetapi justru terasa hangat dan autentik. Bagi saya, tempat seperti inilah yang sering kali memberikan gambaran paling menarik tentang sebuah kota, jauh dari bangunan ikonik dan destinasi wisata yang biasa menghiasi brosur perjalanan.
Menjelang siang, kami mulai mengunjungi beberapa tempat wisata utama di Bandar Seri Begawan.
Perhentian pertama adalah Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien, salah satu ikon paling terkenal di Brunei Darussalam. Kubah emasnya yang megah dan lokasinya di tepi laguna buatan menjadikan masjid ini salah satu bangunan paling fotogenik di Asia Tenggara.
Setelah itu, kami menuju sebuah landmark yang belakangan menjadi spot foto favorit wisatawan: bingkai raksasa bertuliskan Brunei Darussalam. Rasanya belum lengkap berkunjung ke Brunei tanpa mengabadikan foto di tempat ini.
Perjalanan kemudian berlanjut ke pusat perbelanjaan di tengah kota sebelum kami menyeberang menggunakan perahu menuju Kampong Ayer, perkampungan air yang telah menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Brunei selama berabad-abad.
Sayangnya, ketika kami tiba, Kampong Ayer Cultural and Tourism Gallery sedang tutup. Kami pun kehilangan kesempatan untuk mempelajari sejarah perkampungan tersebut secara lebih mendalam.
Kami juga sempat berniat menjelajahi lorong-lorong kayu yang menghubungkan rumah-rumah di Kampong Ayer. Namun, beberapa jalurnya terlihat cukup tua dan kurang meyakinkan untuk dilalui. Akhirnya, kami memilih berjalan di bagian luar kawasan yang sudah menggunakan jalur beton.
Meski tidak berhasil menjelajahi seluruh perkampungan, kunjungan singkat tersebut tetap memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat Brunei yang mempertahankan tradisi tinggal di atas air hingga hari ini. Kampong Ayer bukan sekadar tempat wisata, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat yang terus berlangsung di tengah perubahan zaman.
Gadong Night Market: Wisata Kuliner Brunei yang Wajib Dicoba

Setelah puas menjelajahi pusat kota Bandar Seri Begawan, kami melanjutkan perjalanan ke Gadong, kawasan yang sering dianggap sebagai salah satu pusat keramaian Brunei. Di sini terdapat sejumlah pusat perbelanjaan besar yang menjadi tempat warga berbelanja dan menghabiskan waktu luang.
Kami sempat berjalan-jalan di dalam mal untuk melihat seperti apa gaya hidup masyarakat setempat. Suasananya memang lebih ramai dibandingkan bagian kota lainnya. Namun, jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan di Jakarta, Singapura, atau Kuala Lumpur, keramaiannya masih terasa jauh lebih tenang.
Menjelang malam, tibalah kami di tujuan yang paling dinanti: Gadong Night Market.
Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk berlibur ke Brunei Darussalam dan ingin mencicipi kuliner lokal, menurut kami pasar malam ini adalah salah satu tempat yang tidak boleh dilewatkan.
Di luar dugaan, kami benar-benar menikmati suasananya. Harga makanan relatif bersahabat, pilihannya melimpah, dan berbagai hidangan khas Brunei bisa ditemukan dalam satu kawasan. Mulai dari aneka sate, nasi katok, makanan laut bakar, hingga jajanan manis dan minuman lokal, semuanya tersedia hanya dengan berjalan beberapa langkah.
Rasanya seperti sedang mencicipi Brunei dalam satu malam.
Bagi saya, pengalaman kuliner seperti ini bukan hanya soal makan enak atau mencari makanan murah. Pasar malam juga menjadi tempat untuk mengamati kehidupan masyarakat setempat, melihat apa yang mereka makan, bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama keluarga, dan hidangan apa yang menjadi bagian dari keseharian mereka.
Gadong Night Market akhirnya menjadi salah satu pengalaman paling menyenangkan selama perjalanan kami. Tempat ini membuktikan bahwa meskipun Brunei dikenal sebagai negara yang tenang, selalu ada sudut menarik yang layak dijelajahi jika kita bersedia melihatnya lebih dekat.
Car Free Day Bandar Seri Begawan: Melihat Kehidupan Warga Lokal
Keesokan paginya, kami menyempatkan diri menikmati suasana Car Free Day di Bandar Seri Begawan.
Setiap Minggu pagi, sejumlah ruas jalan di pusat kota, terutama di sekitar Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien, digunakan sebagai ruang publik bagi warga untuk berjalan santai, bersepeda, dan berolahraga.

Suasananya terasa hangat dan akrab. Banyak keluarga menikmati pagi bersama, sementara para pedagang turut meramaikan kegiatan dengan membuka lapak sederhana di sepanjang jalan.
Namun, ada satu hal yang cukup menggelitik. Tentu saja, jalanan menjadi bebas kendaraan selama Car Free Day. Akan tetapi, setelah beberapa hari berada di Brunei, kami menyadari bahwa Bandar Seri Begawan memang merupakan kota yang relatif sepi. Bahkan pada hari biasa, lalu lintasnya sudah jauh dari kata padat.
Hal yang menarik perhatian kami adalah jenis barang yang dijual. Alih-alih didominasi makanan cepat saji atau produk kekinian seperti yang sering kami jumpai di Indonesia, sejumlah pedagang menawarkan hasil panen dari kebun mereka sendiri. Aneka sayuran, buah-buahan, dan hasil bumi lainnya berpindah tangan langsung dari penjual kepada warga kota.
Rasanya seperti menyaksikan sebuah pasar rakyat yang mempertemukan kehidupan desa dan kota dalam suasana santai.
Karena itu, suasana Car Free Day di sini tidak terasa terlalu berbeda dibandingkan hari-hari lainnya. Kami bahkan sempat berseloroh bahwa hampir setiap hari di Bandar Seri Begawan terasa seperti hari bebas kendaraan.
Mungkin justru di situlah daya tarik kota ini. Bukan hiruk-pikuk yang membuat orang datang, melainkan ritme kehidupan yang lambat dan tenang, memberi ruang bagi warganya untuk menikmati keseharian tanpa harus selalu terburu-buru.

Menyusuri Kampong Ayer dengan Perahu dan Mendengar Cerita Warga
Hari terakhir di Brunei menjadi penutup yang paling berkesan.
Kami memutuskan kembali mengunjungi Kampong Ayer. Kali ini, kami tidak menjelajahinya dengan berjalan kaki, melainkan menyewa sebuah perahu untuk menyusuri jalur-jalur air yang menjadi urat nadi perkampungan tersebut.
Keberuntungan berpihak kepada kami. Pengemudi perahu fasih berbahasa Inggris dan sepanjang perjalanan banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Brunei.
Bukan kisah tentang istana megah atau kekayaan negara yang menjadi bahan pembicaraannya, melainkan kehidupan warga biasa: bagaimana mereka bekerja, membesarkan keluarga, dan menghadapi tantangan ekonomi seperti masyarakat di negara lain.
Percakapan itu perlahan mengubah cara pandang kami terhadap Brunei.
Selama ini, saya selalu membayangkan bahwa tinggal di salah satu negara terkaya di dunia berarti semua warganya hidup berkecukupan. Kenyataannya, persoalan tersebut tidak sesederhana itu. Kekayaan sebuah negara yang tercermin dalam angka-angka ekonomi tidak serta-merta berarti kesejahteraan dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakatnya.
Di balik citra Brunei sebagai negara kaya, terdapat kehidupan sehari-hari yang jauh lebih kompleks dan manusiawi.
Bagi saya, inilah salah satu bagian paling berharga dari perjalanan ke negara lain. Kita bisa mengunjungi bangunan bersejarah, memotret landmark terkenal, mencicipi makanan lokal, dan mencatat berbagai destinasi wisata. Namun, terkadang justru percakapan sederhana dengan seseorang yang kita temui di perjalanan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tempat yang sedang kita kunjungi.
Kampong Ayer pun terasa berbeda setelah percakapan itu. Perkampungan air tersebut bukan lagi sekadar objek wisata untuk difoto, melainkan ruang hidup bagi masyarakat dengan cerita dan tantangannya sendiri.

Bandara Brunei yang Sunyi dan Kesan Terakhir tentang Negeri Ini
Menjelang siang, kami kembali ke hotel untuk mengemasi barang bawaan. Setelah menitipkannya di resepsionis, kami masih memiliki waktu untuk menikmati Bandar Seri Begawan sebelum berangkat menuju Bandara Internasional Brunei.
Penerbangan kami baru berangkat pada malam hari sehingga kami tidak perlu terburu-buru meninggalkan kota. Kami bahkan sempat membayangkan bisa bersantai di bandara sambil menikmati makanan atau minuman sebelum naik pesawat.
Namun, sekali lagi, Brunei memberikan kejutan kecil.
Ketika jarum jam melewati pukul delapan malam, sebagian besar toko dan gerai makanan di bandara sudah tutup. Suasananya begitu sunyi, jauh berbeda dari bandara internasional lain yang biasanya tetap hidup hingga larut malam.
Saat itulah saya menyadari bahwa ada satu kata yang terus mengikuti perjalanan kami sejak pertama kali mendarat hingga meninggalkan negara ini: sepi.
Anehnya, semakin lama berada di Brunei, kata itu tidak lagi terdengar sebagai kritik. Justru kesunyian tersebut perlahan menjadi bagian dari identitas negara ini dalam pengalaman kami.
Brunei mungkin bukan destinasi wisata yang menawarkan daftar atraksi tanpa henti atau kehidupan malam yang semarak. Namun, di balik ritmenya yang lambat, kami menemukan sesuatu yang jarang kami rasakan di kota-kota besar: ruang untuk berjalan tanpa terburu-buru, mengamati tanpa tergesa-gesa, dan menikmati perjalanan apa adanya.
Kami belajar bahwa sebuah destinasi tidak selalu harus ramai, populer, atau dipenuhi tempat wisata untuk memberikan pengalaman yang berkesan. Terkadang, perjalanan yang paling menarik justru muncul ketika kita tidak memiliki ekspektasi terlalu tinggi.

Apakah Brunei Darussalam Layak Dikunjungi?
Setelah menghabiskan tiga hari dua malam di Brunei Darussalam, saya memahami mengapa negara ini belum menjadi pilihan utama banyak wisatawan Indonesia. Pilihan transportasinya terbatas, suasana kotanya relatif tenang, dan kehidupan malamnya tidak semeriah destinasi populer lain di Asia Tenggara.
Namun, bukan berarti Brunei tidak memiliki sesuatu yang menarik untuk ditawarkan.
Ada Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien yang megah, Kampong Ayer dengan sejarah dan kehidupan masyarakatnya, Gadong Night Market yang menggoda selera, serta sudut-sudut kota yang mengajak kita menikmati perjalanan dengan tempo lebih lambat.
Brunei mungkin bukan pilihan terbaik bagi mereka yang mencari hiburan tanpa henti. Namun, bagi wisatawan yang tertarik pada budaya, arsitektur, kuliner lokal, fotografi perjalanan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat, negara ini tetap layak masuk dalam daftar destinasi yang perlu dikunjungi.
Mungkin, pada akhirnya, bukan karena Brunei tidak memiliki sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat dan dialami. Bisa jadi, banyak orang datang dengan ekspektasi yang keliru.
Kita terbiasa menilai sebuah kota dari seberapa ramai jalanannya, seberapa banyak atraksinya, atau seberapa panjang daftar tempat yang bisa dikunjungi dalam sehari. Padahal, perjalanan tidak selalu tentang berapa banyak tempat yang berhasil kita datangi.
Terkadang, perjalanan juga tentang kesediaan untuk berhenti sejenak, memperhatikan hal-hal kecil, mendengarkan cerita orang lain, dan menerima bahwa setiap tempat memiliki ritmenya sendiri.
Dan bagi saya, itulah pelajaran paling berharga dari liburan singkat ke Brunei Darussalam: sebuah negara tidak harus selalu ramai untuk menjadi menarik. Terkadang, kita hanya perlu memperlambat langkah agar bisa melihatnya dengan lebih jelas.

